A Gift for Love

Judul Novel: A Gift for Love
Genre: Korean Story
Penulis: Park Nami
Penerbit: Zettu
ISBN: 9786021982983
Cetak: 2012
Tebal: 180 halaman


Novel berjudul A Gift for Love dengan tagline persembahan yang agung dari cinta untuk mereka yang memiliki hati ini, bercover merah muda dengan mawar merah yang menandakan keromantisan.
            Berikut blurb di cover belakang:
            Wajah Kim Nara mengingatkan Rae Won pada Yhun Hee, pacar pertamanya semasa sekolah. Oleh sebab itulah Rae Won sengaja mendekati Kim Nara dan menyatakan cinta kepadanya. Saat Rae Won mengajak Kim Nara berkencan ke Pulau Nami, gadis itu langsung menyetujui. Kenangan manis bersama Appa dan Eomma di pulau indah itu mengingatkan Kim Nara pada pesan Appa yang tidak mengizinkannya berpacaran.
            Sejak kematian Appa dan Eomma, Kim Nara hidup sebatang kara. Makam Appa dan Eomma menjadi persinggahan setiap kali ingin mencurahkan isi hati. Gadis itu bisa berlama-lama di sana demi melepas kerinduannya. Ia pun sering mengunjungi Pulau Nami dan membuka kembali kenangan manis bersama mereka.
            Sebuah novel terakhir Eomma yang ditulis menjelang kematiannya, mengungkapkan banyak rahasia pahit tentang hidup Kim Nara. Dan dari situ kisah ini dimulai dengan segala lika-liku dan perjuangan Kim Nara untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi dalam hidupnya. Lalu, bagaimana dengan cintanya bersama Rae Won?




Read more

Senyum



Judul Antologi: Senyum
Penerbit: Universal Nikko
ISBN: 9786029458223
Cetak: Januari 2013
Tebal: 239 halaman

@NaministPopy

Ada cinta, persahabatan, dan canda tawa. Begitulah tagline antologi Senyum. Ada 23 kisah cinta yang dikemas secara unik dan penuh hikmah. Dan saya menyumbangkan satu kisah tersebut. Satu kisah berjudul pukul enam. Pukul enam merupakan keterangan waktu yang menunjukkan matahari terbit maupun tenggelam. Dalam jam anolog, ketika jarum jam yang panjang berada di angka dua belas dan jarum jam yang pendek di angka enam. Begitu pula cerita pendek tersebut diawali dan diakhiri.
Dua tokoh utama yang saya pilih bernama Tobi dan Erika. Nama ini saya ambil dari nama boneka beruang yang pernah saya lihat di Teddy House Grand Indonesia. Sebenarnya ulang tahun Erika dirayakan pada tanggal 31 Maret, namun teman-temannya menjahilinya pada hari berikutnya yang bertepatan dengan April Mop.
Dengan lugas saya menyampaikan hikmah yang bisa diambil dari cerpen ini melalui curahan hati Erika saat berbincang dengan ibunya.
“Menurutku, April Mop itu bukan budaya kita deh, Ma. Hal yang buruk dari budaya luar seharusnya jangan ditiru. Terus nggak perlu acara ceplok telur, semprot saos kecap, sampai tabur gula bubuk segala. Emang nggak kasihan sama orang-orang di sekitar kita yang kelaparan? Buang makanan kok sembarangan ke tubuh orang? Kalau Erika digerumutin semut gimana, Ma?”
“Syukur deh, anak semata wayang Mama akhirnya paham juga soal berbagi terhadap sesama.”
“Tahun depan kalau Mama ada rezeki buat ngerayain ulang tahun Erika, kita makan bareng anak-anak jalanan atau ke panti asuhan aja ya, Ma.”

@NaministPopy

Cerpen yang saya tulis pada bulan April 2012 ini bisa dibaca di halaman 98. Tak lupa saya pun mengucapkan selamat menonton konser Dream Theater kepada para fans karena Tobi dan Erika juga menyukai Dream Theater. Bahkan kado Tobi untuk Erika berupa tiket konser Dream Theater. Jadi biar afdol, saat membaca cerpen ini sebaiknya sambil mendengarkan lagu Dream Theater juga.


Selain cerpen 06:00, masih ada cerpen lainnya yang tentunya penuh hikmah. Berikut daftar cerpennya:
1.      Hari Panas yang Paling Panas oleh Indah Hanaco
2.      Ayo Pulang ke Rumah oleh Sondang Nababan
3.      Barbie oleh Lonyenk Rap
4.      Tentara Bertameng Kanvas oleh Impian Nopitasari
5.      Pacar Indo Buat Sasha oleh Angri Saputra
6.      Serpihan Hati oleh Mayoko Aiko
7.      Siwon Wannabe oleh Arumi Ekowati
8.      Sayap Keyakinan oleh Alfian Daniear
9.      Kamseuboy oleh Hilal Ahmad
10.  06:00 oleh Naminist Popy
11.  Aku Memilih Senyummu oleh Jacob Julian
12.  Cinderella Kedodoran oleh Prima Sagita
13.  Antara Aku, Ayah, dan Ibu oleh Ari Keling
14.  Kotak Hijau Untuk Melani oleh Setiawan Chogah
15.  Bunga di Ruang Nuri oleh Astuti Parengkuh
16.  That’s It! Oleh Dedek Fidelis Sinabutar
17.  Tear of Dream oleh Fuan Fauzi
18.  Ketika Cinta Patah Hati oleh Nafilah Nurdin
19.  Tuts Hitam-Putih Ve oleh Akarui Cha
20.  Saputangan Ungu oleh Iqbal Tawakal
21.  Ketika Cinta Menjelma Tanya oleh Wiwin Faresya Al Ghifari
22.  Love in Luna Military Academy oleh Ryourie
23.  Senyum oleh Widi Astuti

@NaministPopy

Read more

The Dark Stories

Judul Antologi: The Dark Stories
Penerbit: Universal Nikko
ISBN: 9786029458152
Cetak: Mei 2012
Tebal: 261 halaman

@NaministPopy

Ini kali pertama saya menjadi first reader sebuah antologi yang berisi 20 cerita misteri. Saya pun ikut menjadi kontributor dalam antologi tersebut. Antologi bercover hitam ini berjudul The Dark Story. Dan satu cerpen yang saya tulis berjudul Segenggam Nyawa.

Berikut daftar 20 cerpennya:
1.      Rumah Manggis oleh Nita Tjindarbumi
2.      Segenggam Nyawa oleh Naminist Popy
3.      Bayangan Masa Lalu oleh Chie Chera
4.      Insomnia oleh Arumi Ekowati
5.      Dream From The Past oleh Ry Fitri
6.      Head’s Cut oleh Angri
7.      Dewi Mayang oleh Serenade Sekar
8.      Di Taman Galau oleh Shinta Handini
9.      Hera dan Rahimku oleh Divinn Nahb
10.  Misteri Tangis Bayi oleh Ria Fariana
11.  HP Titipan oleh Faradina Izdhihary
12.  Jiwa oleh Tris Anova Arlim
13.  Misteri Menunggu Jandamu oleh Santya Widiati
14.  Perempuan Dalam Kabut oleh Erma Rostiana Dewi
15.  Pesta Darah oleh Sinatrya Mayapada
16.  Sekelam Mawar Hitam oleh Yessica E Daryanto
17.  Rahasia Gardu Tua oleh Wylvera W.
18.  Terlempar di Dunia Kegelapan oleh T. Sandi Situmorang
19.  The Left Eye oleh Fuan Fauzi
20.  Pocong Project oleh Erry Sofid


@NaministPopy

Satu cerpen yang saya tulis bisa dibaca di halaman 15. Cerpen ini menceritakan tentang segenggam nyawa yang sangat berarti bagi sepasang kekasih, di sini saya menyebut mereka lelaki dan perempuan dengan sudut pandang orang pertama secara bergantian. Pada awalnya si perempuan ingin si lelakinya membunuh untuk kali terakhir saja, namun si lelaki bersikeras untuk tidak melakukannya.
***
Lelaki
Segera kunyalakan lampu. Kudapati kamar itu berantakan. Pecahan kaca ada di mana-mana. Bukan dari botol atau gelas kaca. Tetapi dari cermin yang hancur berkeping-keping.
“Matikan lampunya... Matikan!” Perempuanku histeris. Dia seperti takut pada cahaya yang menyilaukan mata. Segera kuturuti permintaannya. Kamar itu pun kembali gelap gulita.
“Bunuh dia atau aku yang akan membunuhnya sendiri!” Perempuanku menyodorkan pecahan kaca yang dipungutnya dari lantai.
“Tidak akan kubunuh!”
“Dia harus mati! Aku sudah tak tahan lagi...” Perempuanku menangis.
Perlahan darah segar mengalir dari genggaman tangannya. Pecahan kaca itu jatuh dan semakin hancur jadi serpihan penuh darah. Kupeluk lagi perempuanku penuh harap. Harapan untuk bisa menerima semua beban.
***
Apakah selanjutnya si lelaki menuruti keinginan si perempuan? Temukan jawabannya di antologi The Dark Stories. Sebab, sesuatu sedang berada di dekatmu... Mengancammu!

@NaministPopy

Read more

Review Film Jingga


Sabtu, 20 Februari 2016.

            Pagi sekali aku meninggalkan rumah. Menggunakan jasa ojek untuk sampai di perempatan lampu merah. Ya, aku dan sepupuku janjian di sana. Berkali-kali ia menghubungiku, namun aku tak bisa mengangkat telepon karena masih di atas motor. Ketika aku sampai di lokasi janjian, kulihat ia sedang berdiri sendirian. Kutepuk bahunya pelan.
            “Udah lama ya, Gas?” aku menyapanya.
Gagas membalikkan badan, “Kok teleponnya nggak diangkat? Aku kira nggak jadi datang.”
            “Jadi, dong. Yuk, nunggu bus di sana.” Aku menunjuk halte dekat pintu masuk tol.
            “Kita naik bus apa, sih?” Gagas membuntutiku.
            “Itu...” Kutarik lengan Gagas agar segera masuk ke patas AC 73 yang kebetulan lewat saat ia menanyakan busnya.
            Kami duduk di belakang karena bangku depan sampai tengah telah terisi penuh. Sebenarnya aku lebih senang duduk di samping jendela, tapi tempat favoritku itu telah diduduki seorang pria berkacamata yang tak kukenal. Aku duduk di antara Gagas dan pria itu.
            Sebelumnya kami belum pernah ke Gandaria City, tapi aku mencari tahu angkutan umum yang bisa mengantarkan kami ke tempat tujuan. Dan mungkin pria berkacamata yang duduk di sampingku ini bisa kutanyai tentang lokasi mall tersebut.
            “Maaf, apa benar bus ini lewat Gandaria City?” tanyaku basa-basi. Padahal jelas sekali aku sudah tahu jawabannya.
            Pria itu mengangguk, “Ya, saya juga mau ke sana.”
            “Oh, ya? Kebetulan sekali.” Aku tersenyum, “Kita bisa turun bareng.”
            Gagas menguping percakapan kami. Ia tampak lega saat tahu bahwa kami tidak akan tersesat karena pria itu akan menjadi guide.
“Kalian pakai baju orange juga, ya.” Pria itu memperhatikan pakaian yang kami kenakan. Aku dan Gagas memang janjian memakai atasan jingga yang dipadukan dengan celana denim dan sepatu keds. Kami seperti anak kembar, walau beda ayah dan ibu. Orangtua Gagas adalah paman dan bibiku.
Aku mengangkat bahu, “Memangnya kenapa?”
“Saya juga pakai kaos orange, kok.” Pria itu membuka beberapa kancing kemeja kotak-kotak berlengan panjang yang dikenakannya, t-shirt yang bersembunyi di balik kemeja itu kini kelihatan. Ya, warna kaosnya memang jingga.
“Jadi...” Aku dan Gagas kompak bilang, “Kita bakal nonton film Jingga bareng?”
Dengan gaya sok cool-nya pria berkacamata itu mengangguk-angguk.
            Patas AC 73 berhenti di depan mall besar yang dikenal dengan sebutan Gancit atau Gandaria City. Kami turun dari bus dan bergegas menuju pintu masuk mall.
Pak Satpam di pintu masuk menyapa kami dengan ramah, “Undangan nonton bareng film Jingga, ya?”
Aku tersenyum, “Iya, Pak. XXI lantai berapa ya, Pak?”
“Lantai 2, Mbak.”
Kami bergegas masuk lift dan menekan tombol angka dua. Sesampainya di XXI, jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Pantas saja masih sangat lengang, hanya terlihat beberapa panitia acara yang sibuk memasang banner standing dan menyiapkan meja registrasi.
Pria itu menghampiri salah seorang wanita yang berdiri dekat banner standing, “Mau dibantu nggak, Sar?”
Wanita yang disapanya menoleh dan langsung mendekapnya, “Ya ampun, artisnya udah datang. Yang lain mana?”
“Yang lain masih pada di jalan,” sahutnya.
Aku dan Gagas menatap wajah-wajah pemeran film yang terpampang di banner standing lantas membandingkannya dengan wajah pria itu. Sangat mirip, hanya saja di banner pria itu tanpa kacamata. Kini, aku dan Gagas saling berpandangan. Seolah baru sadar kalau pria itu adalah...
“Kita minta foto bareng sekarang!” seru Gagas.
Aku mengiyakan, “Yuk! Mumpung nggak pakai antre.”
***
Kisah ini hanya fiktif belaka. Mendingan kita langsung registrasi dan masuk pintu teater empat karena filmnya akan segera dimulai.
***


Review Film Jingga

         Awalnya Jingga bisa melihat, namun sebenarnya ia menderita low vision sejak kecil. Dokter memberitahukan orangtuanya saat usia Jingga baru 7 bulan. Apa itu low vision?
            Low vision merupakan salah satu bentuk gangguan penglihatan yang tidak dapat dibantu dengan menggunakan kacamata. Jarak pandang maksimal untuk penyandang low vision adalah 6 meter dengan luas pandangan maksimal 20 derajat. Penyandang low vision hanya kehilangan sebagian penglihatannya dan masih memiliki sisa penglihatan yang dapat digunakan untuk beraktivitas.
            Ciri-ciri umum low vision:
  1. Membaca dan menulis dalam jarak dekat.
  2. Hanya dapat membaca huruf berukuran besar.
  3. Memicingkan mata atau mengerutkan dahi ketika melihat di bawah cahaya yang terang.
  4. Terlihat tidak menatap lurus ke depan ketika memandang sesuatu.
  5. Kondisi mata tampak lain, misalnya terlihat berkabut atau berwarna putih pada bagian luar.
            Balik lagi ke film Jingga. Adegan demi adegan yang memperlihatkan masalah penglihatan Jingga ditampilkan. Jingga sering menabrak atau menjatuhkan barang karena pandangannya kabur. Puncaknya adalah saat mata kiri Jingga dipukul teman sekolahnya sehingga mengalami traumatic optic neuropathy. Apa itu traumatic optic neuropathy?
            Traumatic Optic Neuropathy yang biasa disingkat TON adalah trauma yang mengenai bola mata, yang menyebabkan gangguan fungsional berupa penurunan penglihatan dari yang ringan sampai kebutaan. TON adalah jenis trauma yang paling sulit ditangani.
            Dokter memvonis Jingga akan buta total. Ayahnya tak bisa menerima kenyataan pahit ini. Ibunya pun tampak sangat terpukul. Terlebih Jingga yang akan menjadi tuna netra pada usia remaja. Jingga merasa putus asa dan melampiaskan frustrasinya dengan memukul drum sepuasnya. Ayah dan ibunya bertengkar hebat. Violet, adik Jingga, menangis  di kamar.
            Pukulan drum Jingga semakin keras dan membabi buta. Sambil menangis Violet berlari ke ruangan Jingga. Ia berdiri di depan pintu karena pintu itu tertutup. Ibunya pun demikian. Sampai akhirnya tak lagi terdengar suara pukulan drum. Ibu dan Violet masuk ruangan itu dan mendapati Jingga tak sadarkan diri. Ada darah di stik drumnya. Ya, Jingga mencoba bunuh diri. Jingga segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
            Kini, Jingga menjadi tuna netra. Ia pindah ke Sekolah Luar Biasa Negeri A Bandung. Seraya menuntun Jingga, ibunya menjelaskan rute menuju ruang kepala sekolah. Pak Kirmizi menceritakan masa lalunya dan berpesan supaya Jingga tidak menyerah serta bangkit dari keterpurukan. Jingga mulai menerima dirinya yang tuna netra. Ia ingin belajar huruf braille dan melanjutkan sekolah. Jingga tak mau merepotkan ibunya lagi.



        Di sekolah yang baru Jingga berkenalan dengan Marun, Magenta, dan Nila. Mereka tuna netra yang menggemari musik. Jingga bergabung dengan band mereka dan menempati posisi drummer. Marun menempati posisi gitaris, Magenta pada bas, dan Nila sebagai vokalis sekaligus keyboardis. Setiap pulang sekolah mereka latihan ngeband membawakan lagu yang akan diikutkan kompetisi.
            Sebagai leader band tersebut, Marun mengajak mereka untuk rekaman lagu kompetisi di studio Kang Gory. Ia menjadi guide dalam perjalanan mereka. Ada adegan yang mengundang tawa seperti saat menyebrang jalan di perempatan lampu merah. Jingga bertanya pada Marun, bagaimana Marun bisa tahu kapan saatnya menyebrang? Marun menjawab bahwa tuna netra menggunakan pendengarannya. Tentu saja tanda lampu merah adalah saat suara bising mendadak sunyi karena semua kendaraan berhenti. Jingga bertanya lagi, apa kau pernah ditabrak? Dan Marun pun menjawab, tidak, kalau menabrak sering! Mereka pun tergelak. 



            Muncul masalah dalam persahabatan mereka sejak Marun sering mimisan. Marun melampiaskan kemarahan pada Nila dengan mengatakan bahwa vokal gadis itu berubah. Sebenarnya Marun cemburu atas kedekatan Nila dan Jingga.
            Ya, Nila dan Jingga memang tampak tertarik satu sama lain. Nila yang buta sejak lahir karena virus rubella. Nila yang menyukai suara hujan dan tak suka suara angin malam. Nila yang ingin mandiri tanpa ada yang menatap iba terhadapnya. Nila yang ingin ibunya bangga karena terlahir istimewa. Nila yang mengetahui seseorang bahagia atau tidak hanya dari tarikan napasnya. Nila yang mengajak Jingga nonton film di bioskop dengan didampingi tenaga pembisik.
            Marun mogok latihan ngeband. Magenta dan Nila berusaha menghubunginya dengan telepon genggam khusus tuna netra, tapi Marun tak mau menerima teleponnya. Ia menyendiri. Wajahnya pucat. Dan lagi-lagi keluar darah dari hidungnya. 
            Sampai akhirnya Marun diopname di rumah sakit. Kang Gory bertanya kepada dokter tentang penyakit Marun. Ternyata Marun mengidap kanker darah karena kandungan merkuri di tubuhnya. Ya, Marun pernah bercerita saat mengobrol dengan ketiga sahabatnya bahwa ia buta sejak lahir, air di lingkungan rumahnya di Karawang tercemar limbah. Tentu saja limbah itu mengandung merkuri.
          Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Marun bisa diselamatkan? Bagaimana dengan kisah cinta segitiga di antara Marun, Jingga, dan Nila? Bagaimana dengan persahabatan mereka? Bagaimana dengan rekaman lagu kompetisi? Biar penasaran, saya tidak akan menjabarkan jawabannya di sini. Silakan saksikan Film Jingga mulai tanggal 25 Februari 2016 di bioskop kesayangan Anda! Film ini recommeded banget.
***
Sebelum pulang, saya berfoto bareng Mbak Lola Amaria selaku produser sekaligus sutradara Film Jingga, Qausar Harta Yudana yang berperan sebagai Marun, Hany Valery sebagai Nila, dan Hifzane Bob sebagai Jingga.



Film ini juga dibintangi oleh Ray Sahetapy sebagai Ayah Jingga, Keke Soeryokusumo sebagai Ibu Jingga, Nina Tamam sebagai Ibu Nila, Aufa Assagaf sebagai Magenta, dan Isa Raja sebagai Kang Gory.

Terima kasih kepada Femina yang telah mengadakan acara nonton bareng Film Jingga. Goodie bag-nya keren. Terima kasih, ya.




Read more

Cuma Gosip


Cuma Gosip oleh Naminist Popy 
Cerpen ini dimuat di Majalah HAI No.31 Tahun 2012

@NaministPopy


Pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Berjalan kaki karena angkot yang kutunggu belum juga lewat. Mentari pagi yang menyapaku dengan malu-malu menghangatkan jiwaku yang kian membeku. Beku karena PR yang menumpuk dan belum dikerjakan.
“Mole...” Seorang gadis manis dari ujung jalan menyapaku. Rambutnya dikuncir ekor kuda dengan riasan tipis seadanya. Ia terlihat segar dan ceria.
“Bareng, ya,” ujarnya kemudian. Aku mengangguk lesu.
“Kenapa cemberut gitu? Semangat, dong. Semangat...!” Lagi-lagi gadis itu yang bicara.
“Udah ngerjain PR belum, Pi?” Kali ini aku yang bertanya.
“Udah...”
“Lihat, ya.”
“Oh, kamu mau nyontek?”
Untuk kali kedua aku terpaksa mengangguk lesu.
“Nggak. Aku nggak mau ngasih contekan. Aku nggak mau kamu jadi bodoh gara-gara nyontek!”
Pia memang begitu. Ia seorang gadis yang cerdas dan selalu menjadi juara kelas. Setiap kali aku kesulitan pelajaran matematika, ia tak pernah mau memberikan jawabannya langsung. Ia akan mulai mengambil buku coret-coretannya, menuliskan beberapa rumus, dan menjelaskan padaku cara menyelesaikannya. Namun, tidak serta-merta memperlihatkan coretan yang telah ia tulis. Ia menutup bukunya, lalu memintaku menulis ulang sendiri di buku tulisku tanpa melihat coretannya lagi.
“Jadi kamu tinggal substitusi nilai x aja, Mole,” Pia menjelaskan.
“Mm... I see. Thanks, Pi.”
Pia tersenyum menatapku. Tatapan matanya membuatku salah tingkah. Ia memandangku sangat dalam. Matanya tajam seakan hendak menembus jantungku. Ah, aku tak pernah melihat Pia seperti ini. Ada apa dengan Pia?
“Mole, aku digosipin lesbi sama teman-teman sekolah. Padahal kamu tahu sendiri kalau aku ini normal...!” Kini Pia menundukkan kepalanya. Embun di pelupuk matanya mulai mengalir ke pipinya.
“Kenapa kamu nggak pacaran aja sama cowok? Biar teman-teman nggak gosipin kamu lagi...”
Hening. Pia bergeming. Sekian menit tak ada suara lagi di antara kami. Hanya deru nafas yang teratur. Hanya cahaya pagi yang menembus masuk melalui kaca jendela dan pintu kelas yang terbuka.
“Aku nggak mau pacaran sampai lulus sekolah. Aku nggak mau konsentrasi belajarku terganggu gara-gara mikirin cowok,” jawabnya membuatku semakin mengagumi gadis yang duduk di sampingku.
“Hanya pura-pura saja!” cetusku.
“Mm...” Pia bergumam tak jelas.
Suara derit pintu mengalihkan pandangan kami yang sedang berpikir keras menemukan solusi atas gosip yang menimpa Pia.
“Pia, Mole... ngapain berdua-duaan di kelas? Kalian pacaran, ya?” celetuk Adit seraya melemparkan ranselnya ke bangku.
Pia menggelengkan kepala. Aku pun mengikutinya. Sedetik kemudian ia berubah pikiran dan menganggukkan kepala. Aku tercenung melihatnya. Ia baru saja membuat keputusan sepihak tanpa persetujuanku terlebih dahulu.
“Iya, Dit. Aku sama Mole baru jadian. Kamu nggak ngucapin selamat buat kami?” Pia merangkulku layaknya seorang kekasih.
“What...?! Jadi gosip kalau Pia lesbi itu nggak bener, ya! Buat ngerayainnya traktir aku makan di kantin, dong. Bubur ayam boleh juga. Mumpung aku belum sarapan.”
Pia menarik lenganku. Ia menggiring kami menuju kantin. Kami pun sampai di kantin yang masih tampak lengang. Belum ada siswa atau siswi yang mampir ke sini selain kami bertiga. Bude dan Pakde yang menjual makanan juga masih sibuk menyiapkan jajanannya. Malah di beberapa sisi masih kosong karena pemiliknya belum datang.
“Ketupat sayur aja, gimana? Buburnya belum ada,” Pia mengusulkan.
Adit mengangguk-angguk senang. Matanya berbinar-binar melihat ketupat digantung di atas gerobak dorong. Perutnya sudah keroncongan minta diisi makanan. Alhasil, pagi ini kami sarapan dengan ketupat sayur buatan Bude Rahmi.
“Mole, teman-teman sekelas nanti siang ditraktir juga ya. Aku sebagai ketua kelas yang bijaksana akan mengumumkan kabar gembira ini,” celetuk Adit membuat mata Pia membulat.
“Bilang aja kalau kamu masih laper dan minta ditraktir lagi!” sahut Pia galak.
“Aku jamin Pia nggak bakal digosipin lagi sama teman-teman. Kalau cuma traktir aku kan nggak ngaruh!” kilah Adit.
“Oke, deh. Tapi nanti kamu nggak ikut ditraktir, ya. Kamu mesti bayar sendiri,” ketus Pia. Wajah Adit tampak kurang senang.
Aku yang hanya menjadi pendengar perdebatan antara Pia dan Adit hanya geleng-geleng kepala. Menghitung sisa uang yang berada di saku seragam sekolahku. Ah, apa ini cukup ya?
***
@NaministPopy


Sukses dikerjain Adit, Pia dan aku hanya bisa menggerutu. Sial! Seharusnya kami berpikir matang-matang sebelum mentraktir Adit dan teman-teman sekelas. Uang bayaran yang seharusnya dibayarkan hari ini, ludes dipakai untuk mentraktir mereka semua.
            “Pi, gimana nih? Bulan ini aku mesti bayaran kalau mau ikut ujian semester!” keluhku.
            “Tenang, Mole. Karena kamu udah bantuin aku dari gosip murahan itu, aku juga bakalan bantuin kamu. Gimana kalau kita ngamen buat ngumpulin uang bayaranmu?” cetus Pia.
            “Kalau sampai ketahuan temen-temen kita ngamen di jalanan, bakalan timbul gosip baru, Pi...”
            “Iya, ya. Gimana kalau kita ikutan lomba nulis blog? Siapa tahu aja menang! Hadiahnya lumayan, lho.”
            “Ingat, Pi. Bulan ini tuh tinggal sepuluh hari lagi. Emangnya lomba nggak butuh waktu buat nungguin pengumuman juri. Hadiahnya juga nggak langsung cair gitu aja, kan?!”
            “Oh, I see... Gimana kalau kita tetap ikutan lomba, tapi biar uangnya terkumpul dengan cepat, kita pinjem dulu. Pinjemnya fifty - fifty. Gimana?”
            Aku mengangguk lesu. Mau bagaimana lagi, tidak ada cara lain. Aku dan Pia harus segera meminjam uang dari teman atau saudara. Ngomong-ngomong, siapa saja orang tak beruntung yang akan kami mintai tolong, ya?
            “Mole, aku udah bikin daftar calon orang baik hati, nih.” Pia menunjukkan daftar teman sekolah yang mau dimintai pinjaman.
            “Banyak banget, Pi?”
“Kan aku pinjamnya nggak sekaligus yang kita butuhkan. Pakai strategi, dong! Cuma lima ribu tiap satu orang kan nggak berasa. Disesuaikan dengan uang jajan mereka. Syukur-syukur malah dikasih tanpa harus mengembalikan, hehehe...”
Kutepuk keningku. Tak kusangka ternyata Pia lebih pandai dalam hal pinjam-meminjam. Kalau ada koperasi simpan pinjam yang membuka lowongan pekerjaan, ia sangat cocok menjadi pengurusnya. Karena ia pasti tahu trik-trik anggota dalam mengelabui para pengurus. Atau bisa juga Pia menjabat bendahara kelas yang kejam saat memalak siswa-siswi membayar uang kas. Sayangnya ia lebih memilih untuk menjadi sekretaris di kelas maupun OSIS.
***

@NaministPopy


Aksi meminjam lima ribu rupiah per siswa pun berjalan dengan sukses di hari pertama. Sebagian teman sekelas malah memberikan uangnya dengan cuma-cuma. Aku membayar uang sekolahku keesokkan harinya.
Lomba menulis blog pun langsung kami garap bersama setelah urusan bayaran sekolah telah beres. Sepulang sekolah, aku dan Pia menyelesaikan tulisan blog kami dengan sungguh-sungguh. Aku semakin dekat saja dengan Pia. Tak jarang kami mengerjakan PR dan tugas sekolah bersama-sama. Sampai bulan berikutnya pengumuman pemenang lomba menulis blog diumumkan.
“Pi, nanti malam kan pengumuman pemenang. Blog kita bakalan jadi juara nggak, ya?” Aku mulai membuka percakapan saat pulang bersama Pia.
“Yakin dong, Mole. Kita pasti menang! Kalaupun kalah, yang penting kita sudah mencoba dan berusaha semampu kita,” jawab Pia dengan senyum manisnya.
“Mm..., iya, sih...” gumamku. Pia memang sosok gadis remaja yang berpikiran dewasa dan menyenangkan. Ia tak seperti kebanyakan gadis yang kukenal. Atau mungkin aku sudah menyukainya sejak lama? Ah, bukankah status kami saat ini adalah pasangan pura-pura?! Tepatnya aku dan dia berpura-pura pacaran di depan teman-teman sekolah.
“Pi, gimana kalau kita pacaran beneran?” Aku menggenggam tangan Pia. Gadis itu sangat terkejut dengan keputusanku yang sangat mendadak.
“Mole...” Pia mengedipkan matanya. Seperti memberi peringatan.
“Memangnya kenapa? Apa karena kamu nggak mau pacaran sampai lulus sekolah? Aku tahu, Pi. Kamu menyukaiku, dan aku pun menyukaimu.” Mendengar ucapanku kali ini Pia mendengus kesal.
“Stop...!” Angkot yang kami tumpangi berhenti mendadak. Sebagian penumpang terlonjak dari tempat duduknya. Ini karena pak supir mengerem secara mendadak. Tanpa basa-basi padaku seperti biasanya, Pia berlalu begitu saja.
            Keesokkan paginya, aku dan Pia tak lagi berangkat ke sekolah bersama-sama. Pia tak mau membalas SMS-ku dan merijek telepon dariku. Sepertinya ia tengah marah besar. Sebelumnya, aku tak pernah mendapati gadis kuncir ekor kuda itu bersikap jutek padaku. Saat sampai di kelas, Vanya menatapku dengan sinis. Vanya... Ah, bukankah kemarin kami satu angkot dengannya? Jangan-jangan Pia marah karena...
            “Mole, jadi selama ini kalian...” Adit menghampiri tempat dudukku. Pagi itu belum banyak yang datang ke kelas.
            “Cuma pura-pura pacaran?” Adit melanjutkan.
            “Kata siapa? Kami memang beneran pacaran, kok!” Aku membantah.
            “Kemarin kalian bertengkar di angkot, kan? Emangnya kalian nggak tahu kalau ada Vanya di situ...” Sedetik kemudian aku dan Adit menoleh ke arah Vanya. Ya, gadis kuncir dua itu memang ada di sana. Mendengar percakapan kami dan ikut terlonjak ketika angkot berhenti mendadak. Kali ini aku tak mampu berkilah lagi. Kebohongan kami akan segera terungkap.
            Sepanjang pelajaran, Pia tampak gelisah. Aku jadi merasa bersalah atas semuanya.        
“Emang kamu dan Mole cuma pura-pura pacaran supaya nggak digosipin lesbi sama teman-teman? Dan sebenarnya kamu memang lesbi, Pi?!” tanya Dauna saat istirahat. Pia cemberut dan meninggalkannya begitu saja. Saat ini gosip yang menimpa Pia bila hanya berpura-pura pacaran denganku sudah tersebar luas di sekolah. Vanya dengan sengaja menyebarkan berita tersebut.
            Tak kuduga Pia menemukan persembunyianku. Selama istirahat aku membaca buku di perpustakaan.
            “Mole...” panggil Pia.
            “Pia, maafin aku. Kemarin aku nggak tahu kalau Vanya ada di angkot juga,” sahutku.
            “Mm... nggak apa-apa. Maafin aku juga bertindak seperti itu padamu. Aku cuma mau bilang kalau aku mau menjadi pacar beneran. Menurutku, tak ada bedanya status pacaran atau sahabatan di antara kita. Yang terpenting, gosip lesbi yang menimpaku akan lenyap seiring berjalannya waktu. So, kamu masih mau jadi pacarku, Mole?”
            Aku melonjak-lonjak kegirangan. Beberapa pasang mata tertuju ke arah kami. Ah, biar saja. Yang terpenting gosip lesbi yang menimpa Pia itu akan hilang dengan sendirinya! Namun, aku tersentak ketika Adit ada di hadapan kami. Sambil senyum-senyum sendiri, dia berkata, “Teman-teman sekelas ditraktir lagi, nih?”
***
@NaministPopy

Read more